http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/issue/feed Al'Adalah 2022-04-20T04:25:25+00:00 Moh. Fathoni fathoniemail@gmail.com Open Journal Systems <table width="611"> <tbody> <tr> <td>Journal Title</td> <td>:<strong> Al'Adalah</strong></td> </tr> <tr> <td>ISSN</td> <td>: <a href="http://u.lipi.go.id/1535511807" target="_blank" rel="noopener">2684-8368</a> (online) | <a href="http://u.lipi.go.id/1180430966" target="_blank" rel="noopener">1410-7406 </a> (print)</td> </tr> <tr> <td>DOI Prefix</td> <td>: 10.35719 by <a href="https://www.crossref.org/">Crossref</a></td> </tr> <tr> <td>OAI Prefix</td> <td>: <a href="http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/oai?verb=ListRecords&amp;metadataPrefix=oai_dc&amp;set=aladalah" target="_blank" rel="noopener">http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/oai</a></td> </tr> <tr> <td>Publisher</td> <td>: Centre for Research and Community Service (LP2M), Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia</td> </tr> <tr> <td>Frequency</td> <td>: 2 issues per year</td> </tr> <tr> <td>Citation Analysis</td> <td>: <a href="https://scholar.google.co.id/citations?hl=id&amp;user=7mgI2B4AAAAJ" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a><strong> |</strong> <a href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/20036" target="_blank" rel="noopener">Garuda</a><strong>|</strong> <a href="https://www.neliti.com/journals/al-adalah-iain-jember" target="_blank" rel="noopener">Neliti </a><strong>| </strong><a href="https://moraref.kemenag.go.id/archives/journal/99047180253369589" target="_blank" rel="noopener">Moraref</a> <strong>| </strong><a href="https://www.scilit.net/journal/6101846" target="_blank" rel="noopener">Scilit</a><strong> | </strong><a href="https://journals.indexcopernicus.com/search/details?id=68978" target="_blank" rel="noopener">Index Copernicus</a> <strong>| </strong><a href="https://app.dimensions.ai/discover/publication?search_mode=content&amp;and_facet_source_title=jour.1406908" target="_blank" rel="noopener">Dimensions</a></td> </tr> </tbody> </table> <p><strong><em>Al'</em></strong><strong><em>Adalah</em> </strong>is a journal that publishes current original articles on religious studies and Islamic studies using an interdisciplinary perspective, especially in the study of Islamic theology and its related social sources.</p> <p><strong><em>Al</em></strong><strong><em>‘Adalah</em></strong> has been published since 1998 by the Centre for Research and Community Service (LP2M), Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.</p> http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/article/view/203 INTEGRASI SAINS DAN AGAMA DI MASA PANDEMI 2022-04-06T07:27:56+00:00 asmawati asmawati.suwarno@gmail.com <p>Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sains dan agama dalam konteks pandemi di Indonesia. Hal menarik sekaligus topik permasalahan dalam artikel ini adalah bagaimana agama dan sains menjelaskan perannya di masa pandemi. Lebih spesifiknya, penentangan terhadap kebijakan pemerintah akan berbenturan dengan religiositas yang diyakini sebagian besar masyarakat Indonesia. Berdasarkan studi literatur, hasil yang diperoleh antara lain pemahaman agama yang berlebihan yang akan membuat masyarakat semakin tidak percaya dengan kenyataan. Di masa pandemi ini, sains dan agama harus saling melengkapi, yang keduanya adalah anugerah dari Tuhan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai dominasi manusia yang selalu dijajah oleh kepentingan duniawi bagi orang-orang yang hanya mementingkan hubungan vertikal dengan Tuhan. Kontribusi ilmiah artikel ini adalah untuk menjelaskan secara spesifik di mana agama menjadi faktor utama dalam membangun cara pandang masyarakat.</p> <p>This article aims to analyze science and religion in the context of a pandemic in Indonesia. The interesting thing as well as the topic of the problem in this article is how religion and science explain their role during the pandemic. More specifically, opposition to government policies will be clashed with the religiosity that most Indonesians believe in. Based on the literature study, the results obtained include an excessive understanding of religion that will make people increasingly distrustful of reality. During this pandemic, science and religion must complement each other, both of which are gifts from God. Science is considered as a human domination that is always colonized by worldly interests for people who only care about a vertical relationship to God. The scientific contribution of this article is to explain specifically where religion is the main factor in building community perspectives.</p> 2022-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2022 Asmawati http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/article/view/86 AGAMA DAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DI ERA MODERN 2022-04-02T06:43:12+00:00 Andika Andika andikaandikaa61@gmail.com <p>Agama adalah sebuah kepercayaan yang telah ada sejak manusia di permukaan Bumi. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, agama senantiasa abadi dan kekal dalam kehidupan manusia. Namun demikian, agama yang awalnya senantiasa abadi dan kekal dalam kehidupan manusia dipertemukan dengan kemajuan zaman seiring berjalannya waktu dari masa ke masa sehingga mempertemukan agama dan teknologi. Teknologi merupakan salah satu dari hasil perkembangan zaman dalam kehidupan, dari waktu ke waktu teknologi terus berkembang dan memberikan inovasi-inovasi terbaru dalam kehidupan manusia. Seiring pesatnya perkembangan teknologi yang dikembangkan oleh manusia, sehingga bisa mengantarkan umat manusia ke zaman atau era yang disebut dengan era modern. Oleh demikian itu, perlu untuk melakukan kajian terhadap agama dan perkembangan teknologi di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa agama bukan penghambat manusia di era modern. Justru, agama merupakan pengendali dalam kehidupan manusia supaya manusia tidak kehilangan arah ketika berpikir dan bertindak dengan akal pikirannya. Oleh demikian itu, agama menjadikan manusia tidak liar dalam menjalani kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis melalui studi pustaka. Hasil dari penelitian ini bahwa agama bukanlah penghambat perkembangan teknologi di era modern sebab peran agama dalam kehidupan tidak bisa tergantikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa agama memberikan ruang bagi pemeluknya dalam berpikir maupun bertindak dengan menstandarisasikannya kepada agama.</p> <p>Religion is a belief that has existed since humans on the surface of the Earth. As time goes by and the development of the times, religion is eternal and eternal in human life. However, religion which was originally eternal and eternal in human life was met with the progress of the times as time passed from time to time so as to bring together religion and technology. Technology is one of the results of the times in life, from time to time technology continues to develop and provide the latest innovations in human life. Along with the rapid development of technology developed by humans, so that it can deliver humanity to an era or era called the modern era. Therefore, it is necessary to conduct a study of religion and technological developments in the modern era. This study aims to determine that religion is not a barrier to humans in the modern era. Instead, religion is a controller in human life so that humans do not lose their way when thinking and acting with their minds. This research uses descriptive analysis methods through literature study. The results of this study are that religion is not an obstacle to technological development in the modern era because the role of religion in life cannot be replaced. This study concludes that religion provides space for its adherents to think and act by standardizing it to religion.</p> 2022-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2022 Andika Andika http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/article/view/155 KESIAPAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH MENGHADAPI ERA SOCIETY 5.0 2022-04-06T07:17:29+00:00 RAHMAD SUGIANTO pakrahmad1991@gmail.com Darmayanti ranidarmayanti90@webmail.umm.ac.id Humaidi mnhumaidi@umm.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang kesiapan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, salah satunya dengan mengembangkan peradaban profetik sebagai solusi terhadap tantangan society 5.0 dengan konsep <em>khaira ummah</em> dan <em>baldah thayyibah</em>. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kajian literatur dari berbagai sumber referensi yang relevan dan didapatkan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin berkembang dengan urgensi masyarakat yang berpusat pada manusia (<em>human-centered</em>) dan berbasis teknologi (<em>technology based</em>), serta kesiapan Muhammadiyah dalam menyambut era society 5.0 khususnya dalam kiprahnya didunia pendidikan. Kesiapan lainnya yaitu dengan merapatkan barisan berusaha menyinergikan antara potensi dengan sumber daya yang ada, meneguhkan gerakan sosial keagamaan yang mengakar dan mengaliri denyut nadi kehidupan umat dan bangsa serta intelektual Muhammadiyah untuk menyambut dan memaknai society 5.0 sangat besar, karena rekognisi dan ekspektasi masyarakat bangsa dan dunia terhadap Muhammadiyah juga sangat tinggi merupakan kekuatan penggerak perjuangan Muhammadiyah yang perlu direspons dengan spirit yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan.</p> <p>This study aims to examine the readiness of Muhammadiyah in the field of education, one of which is by developing prophetic civilization as a solution to the challenges of society 5.0 with the concepts of khaira ummah and baldah thayyibah. The method used in this study using a literature review of various sources of relevant references and obtained Technology, Information and Communication Technologies (ICT), which is growing with the exigencies of society centered on the human (human-centered) and based on technology (technology-based),as well as Muhammadiyah's readiness to welcome the era of society 5.0, especially in its work in the world of education. Another readiness is to close ranks trying to synergize potential with existing resources, strengthen religious social movements that take root and flow the pulse of the life of the people and the nation as well as Muhammadiyah intellectuals to welcome and interpret society 5.0 is very large, because of the recognition and expectations of the nation and the world community. against Muhammadiyah is also very high as a driving force for Muhammadiyah's struggle that needs to be responded to with the spirit inherited by KH. Ahmad Dahlan.</p> 2022-04-20T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2022 Rahmad Sugianto, Rani Darmayanti, M. Nurul Humaidi http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/article/view/85 OPTIMALISASI WAKAF PESANTREN: STUDI WARALABA BASMALAH DI INDONESIA 2022-04-12T05:56:53+00:00 Afandy avhandy946@gmail.com Nafisah durrotunnafisahku@gmail.com <p>Wakaf menjadi salah satu alternatif bagi sebagian orang untuk menyalurkan bantuan yang mereka miliki. Biasanya wakaf juga salah satu dari berbagai macam bentuk bantuan-bantuan yang diberikan untuk kemaslahatan bersama. Dalam dunia pesantren sering sekali kata “wakaf” didengar dan bahkan menjadi topik dalam diskusi (forum). Wakaf pesantren memiliki arti bahwa sesuatu hal yang telah diberikan secara cuma-cuma (tanpa diperjualbelikan) tersebut yang nantinya akan digunakan untuk berbagai hal yang bermanfaat, entah itu bagi orang-orang sekitar maupun masyarakat luas. Paper ini adalah paper yang berbasis kajian pustaka. Di dalam paper ini akan menelaah dua pertanyaan yang sangat signifikan. <em>Pertama</em>, seperti apa konsep optimalisasi wakaf dalam pesantren. <em>Kedua</em>, bagaimana konsep studi waralaba Basmalah yang ada di Indonesia. Konsep optimalisasi wakaf pesantren dijelaskan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Analisis tersebut juga digunakan untuk menjelaskan studi waralaba Basmalah yang ada di Indonesia. Hasilnya dalam artikel ini adalah tentang konsep optimalisasi wakaf pesantren dan konsep studi waralaba yang digunakan oleh Basmalah dalam menjalankan kegiatan jual beli (<em>al-bai’</em>). Dengan demikian, paper ini dibuat untuk memberikan pemahaman kepada sebagian besar orang yang masih awam tentang bisnis atau produk yang dimiliki oleh pesantren sebagai wakaf di dalamnya.</p> <p>Waqf is an alternative for some people to distribute the assistance they have. Usually, waqf is also one of the various forms of assistance provided for the common good. In the world of pesantren, the word "<em>waqf</em>" is often heard and even becomes a topic in discussion (forum). Waqf pesantren has the meaning that something that has been given free of charge (without being traded) will later be used for various useful things, whether it is for the people around and the wider community. This paper is a paper based on a field study. In this paper, we will examine two very significant questions. <em>First</em>, what is the concept of optimizing waqf in pesantren. <em>Second</em>, how is the concept of the basmalah franchise studied in Indonesia. The concept of optimizing waqf pesantren is explained using a descriptive-analytical approach. This analysis is also used to explain the study of basmalah franchises in Indonesia. The conclusion of this paper is to find out what the concept of optimizing waqf pesantren is like and also to understand the concept of franchise studies used by Basmalah in carrying out buying and selling activities (<em>al-bai'</em>). From that conclusion, this paper was made, to understand most people who are still unfamiliar with a business/product owned by a pesantren as a waqf in it.</p> 2022-04-21T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2022 Moch. Iqbal Afandy, Durrotun Nafisah http://aladalah.uinkhas.ac.id/index.php/aladalah/article/view/205 MEMBONGKAR KLAIM HARAM ATAS PENGHORMATAN BENDERA 2022-04-20T04:25:25+00:00 Zainul Hakim zainulhakim9@gmail.com <p>Gejala ekstrem dalam beragama dewasa ini semakin menguat. Di media massa beredar wacana dan fatwa tentang pengharaman dan pengkafiran bagi umat muslim yang memberikan penghormatan bendera kebangsaan Indonesia, Merah-Putih. Narasi ini diperkuat oleh beberapa pendakwah muslim yang disinyalir merupakan penganut takfiri (pengkafiran) dari gerakan Islam transnasional menyatakan bahwa hormat bendera termasuk perbuatan<em> bid’ah</em><em>.</em> Dengan begitu, narasi tersebut menimbulkan kegaduhan dan dapat mengusik persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia yang kebhineka tunggal ika. Oleh karenanya, rtikel ini berupaya mengungkap makna dan hukum memberikan penghormatan bendera dalam perspektif kajian Islam. Pengkajian ini dilakukan dengan melihat aspek hukum Islam baik secara <em>taklifiy</em> maupun <em>wad’iy</em>. Adapun upaya pemaknaan ditelusuri secara rigid baik secara lughowi maupun maknawi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penghormatan bendera di sini bukan termasuk kategori ibadah <em>mahdhah</em> dalam syariat Islam. Maka dari itu, hukumnya tidak dapat disebut haram atau bid’ah, apalagi pelakunya disebut kafir. Selain itu, dalam kasus penghormatan bendera berbeda dengan penghambaan, pemujaan, atau penyembahan karena berlandaskan kepada perilaku moral atau akhlak. Dengan demikian, artikel ini dapat bermanfaat sebagai upaya untuk mengklarifikasi dan mengurai persoalan yang menjadi di dalam masyarakat.</p> <p>Recently the extreme tendency in religion has strengthened. The mass media also promoted the discourses and fatwas on prohibition and disbelief for Muslims to honour the Indonesian national flag. This is also reinforced by several Muslim preachers (<em>ustaz</em>) who are indicated as part of the transnational Islamic movement (<em>takfiri</em>), which states that honouring the flag is a <em>bid'ah </em>or <em>haram</em>. This can disrupt the unity and integrity of the Indonesian people (Bhineka Tunggal Ika; diversity in diversity). Therefore, this article seeks to reveal the meaning of claims and the law of honouring the flag in the perspective of Islamic studies including aspects of Islamic law both in <em>taklifiy</em> and <em>wad'iy</em> ways. This effort is carried out by searching rigidly, both <em>lughowi</em> and <em>maknawi</em>. The results of this study indicate that the honour the flag is not included in the category of <em>mahdhah</em> worship in Islamic law. Therefore, it cannot be called <em>haram</em> or <em>bid'ah</em>; moreover, the person who does it is called by <em>kafir</em> (infidel). In addition, in this case, honouring the flag based on moral or moral behaviour is different from worship based on theology. Thus, the article can be useful for clarifying and reflecting on problems in society.</p> 2022-04-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2022 Zainul Hakim